Jumat, 18 Januari 2019 - 18:45:30 WIB

Tahun Ini BRG Mulai Supervisi Pemulihan di Lahan Konsesi

Editor: Administrator | Dibaca: 126
Tahun Ini BRG Mulai Supervisi Pemulihan di Lahan Konsesi

PIRAMIDNEWS.COM-Badan Restorasi Gambut (BRG) selama ini lebih mengutamakan pemulihan lahan gambut milik masyarakat maupun di daerah konservasi. Namun, mulai tahun ini mereka akan turut melakukan supervisi pemulihan gambut di wilayah konsesi di Riau.

"Kenapa baru tahun ini? Karena, mekanismenya demikian," kata Myrna Safitri, Deputi Edukasi dan Kemitraan BRG saat pertemuan dengan awak pers, Jumat, 18 Januari 2019.

Dilanjutkannya, mekanisme pemulihan gambut di kawasan konsesi baru akan dilakukan setelah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan ada kerusakan. Setelah itu, KLHK memerintahkan perusahaan untuk menyusun rencana pemulihan.

"Di saat pemulihan dilakukan, di sanalah peran BRG," ujar Mryna.

Di Riau, ungkapnya, ada 147 ribu hektare lahan yang akan disupervisi. "Sejauh ini, supervisi yang sudah dilakukan yakni di Jambi dan Kalbar," ungkap Myrna lagi.

Pemulihan itu dilakukan sesuai dengan bentuk-bentuk dan prinsip pemulihan yang dilaksakan BRG selama ini. Mulai dari pembahasan kembali lahan gambut (rewetting), penanaman hutan kembali (revegetasi) dan juga perbaikan ekosistemnya melalui revitalisasi.


814 Ribu

Selanjutnya diungkapkan, ada 814.714 hektare lahan gambut rusak di Riau yang jadi target restorasi oleh BRG. Itu terdiri dari 43.811 hektare lahan gambut rusak di area konservasi, 707.368 hektare di area konsesi dan 63.535 hektare di kawasan lainnya termasuk hutan produksi, hutan lindung dan Area Peruntukan Lain (APL) yang tak berizin.

Untuk kawasan konservasi, tugas pemulihan itu ada pada pemangku kawasan, baik taman nasional, suaka margasatwa maupun lainnya. Di sini juga dapat bermitra dengan lembaga swadaya masyrakat (LSM). Lalu, di area konsesi tugas itu ada pada pemegang konsesi dengan supervisi BRG. Di kawasan lainnya tugas itu harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah yang dapat bermitra pula dengan LSM yang keseluruhannya di bawah sistem tugas perbantuan.

"Kawasan konsesi menjadi tanggung jawab pemegang konsesi. Kawasan ini yang mayoritas ada di wilayah Riau," ungkap Myrna lagi.

Disampaikan pula, kerusakan gambut di Riau terutama karena lahan terbakar, kubah gambut yang dibuka atau lahan dibuka melalui proses pembersihan lahan sistem land clearing.

Usai penyampaian Myrna, BRG sempat mengekspos keberhasilan petani dan kelompok masyarakat mengelola lahan gambut dengan sistem yang organik, tanpa pembakaran, pembuatan kanal dan pembersihan lahan melalui land clearing. Kesaksian itu disampaikan Badri, petani dari Bunga Raya, Kabupaten Siak Sriindrapura dan Amri dari Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, juga Kabupaten Siak. (din)

Foto: Dua orang petani Siak Sriindrapura menyampaikan pengalamannya bertani di lahan gambut dengan metoda organik. (dina)

×