Sabtu, 05 Desember 2015 - 07:39:42 WIB

Uniknya Interior Istana Maimun

Editor: Administrator | Dibaca: 1203
Uniknya Interior Istana Maimun

Oleh: Maswito

ADA pameo yang mengatakan, “jika anda belum menginjakkan kaki di Istana Maimun berarti anda belum sampai ke Kota Medan.”  Pameo ini disampaikan Staf Ahli Peneliti Arkeologi dan Sejarah Balai Arkeologi (Balar) Medan, Drs Lucas Pertanda Koestoro DEA  ketika mengajak kami  mengellilingi Kota Medan.  
 
Begitulah penat mengelilingi Kota Medan,  kami  singgah di Istana Maimun.  Cukup dengan membayar tiket masuk (entri pas) Rp10.000 kami mengelilingi Istana Maimun di Jl Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara.

Kami mengelilingi Istana Maimun  sekitar satu jam  dipandu oleh Tengku Haris yang masih keturunan Sultan Deli.  Dari Tengku Harislah kami tahu tentang Istana Maimun ini.
 
Istana Maimun terkadang disebut juga Istana Putri Hijau. Istana ini merupakan istana pusat pemerintahan kebesaran Kerajaan Deli.  Istana ini dibangun oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 26 Agustus 1886.

Sultan Ma’moen adalah Sultan Deli ke-IX yang merupakan putra sulung dari Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan.  Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1 Mei  1889 istana ini diresmikan.   Kemudian ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia  dengan SK No. PM01/PW.007/MKP/ 2010  menjadi  Benda Cagar Budaya.
         
Luas istana lebih kurang 2.772 m, dengan halaman yang luasnya mencapai 4 hektar. Panjang dari depan kebelakang mencapai 75,50 m  dan tinggi bangunan mencapai 14,14 m.

Sedangkan arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda dan Melayu. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol.

maimun1


Pengaruh Islam
Pengaruh Islam tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada bagian atap yang menyerupai perahu terbalik (lengkungan persia). Tinggi lengkungan tersebut berkisar antara 5 sampai 8 meter. Bentuk lengkungan ini amat populer di kawasan Timur Tengah, India dan Turki.
         
Bangunan istana  ini terdiri dari dua  lantai ditopang oleh kayu dan batu dengan tiga  ruangan utama yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan.

Bangunan induk disebut juga Balairung dengan luas 412 m2, di mana singgasana kerajaan berada. Singgasana kerajaan digunakan dalam acara-acara tertentu, seperti penobatan raja, atau pun ketika menerima sembah sujud keluarga istana pada hari-hari besar Islam.

Selanjutnya terdapat 40 kamar yang terdiri dari 20 kamar di lantai atas (tempat singasana sultan) dan lainnya di bagian bawah. Di bangunan ini juga terdapat sebuah lampu kristal besar bergaya Eropa.

Di dalam istana terdapat 30 ruangan, dengan desain interior yang unik, perpaduan seni dari berbagai negeri. Dari luar, istana yang menghadap ke timur ini tampak seperti istana raja-raja Moghul.
 
Istana nan indah ini didesain oleh seorang arsitek kenamaman berkebangsaan Italia bernama Ferrari. Pemerintah Hindia Belanda turut juga membantunya dengan menunjuk Kapten KNIL Thomas van ERP di bidang teknis pembangunan.

Makanya, tak heran jika banyak sentuhan arsitektur dunia pada bangunan Istana Maimun. Dengan memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia, bangunan ini terlihat begitu megah.
 
Sebenarnya Istana Maimun ini juga didukung oleh beberapa bangunan lainnya yang berada tidak jauh dari kompleks istana. Yakni, Masjid Raya Al-Mashun, Taman Sri Deli, Balai Kerapatan yang berada di Jalan Mahkamah sekarang dan Istana Puri di kawasan Jalan Puri.

Namun, Balai Kerapatan dan Istana Puri sudah tidak bersisa lagi. Sedangkan Taman Sri Deli, meskipun sempat dijual kepada pihak ketiga, saat ini dikelola oleh Dinas Pertamanan setelah dibeli lagi oleh Pemko Medan.

"Dulu, Istana Puri adalah istana tempat tinggal keluarga sultan. Namun sekarang hanya tinggal tapaknya saja, karena sudah jadi kawasan pemukiman. Begitu pun dengan Balai Kerapatan," ungkap Ketua Yayasan Sultan Ma"moen Al Rasyid Tengku Haris Abdullah.
 
Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu. Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut dihelat dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya.

Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana. Pada setiap malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wirid dan keluarga).
 

maimun


Meriam Puntung
Bagi para pengunjung yang datang ke istana, mereka masih bisa melihat-lihat koleksi yang dipajang di ruang pertemuan, seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno, dan berbagai jenis senjata. Di sini, juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung.

Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena tubuhnya memancarkan warna hijau. Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali.

Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya. Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid.
 
Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan menembak membabi-buta tanpa henti. Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan Aceh, maka meriam ini terpecah dua.

Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe. Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimun.
 
Terbuka untuk Umum
Setiap hari, Istana Maimun terbuka untuk umum, kecuali bila ada penyelenggaraan upacara khusus. Saat kami  berkunjung tampak beberapa orang sibuk memasang tenda. “Di sini sering dipakai tempat pargelaran acara,” ujar Lucas yang setia mendampingi kami.  
 
Sayang istana ini terkesan kurang terawat dan terkesan kumuh.  Boleh jadi, hal ini disebabkan minimnya biaya yang dimiliki oleh keluarga sultan. Selama ini, biaya perawatan amat tergantung pada sumbangan pengunjung yang datang.

“Agar tampak lebih indah, sudah seharusnya dilakukan renovasi, tentu saja dengan bantuan segala pihak yang concern dengan nasib cagar budaya bangsa,” ujar Lucas, alumnus jurusan Arkeologi UGM Yogyakarta dan Magister (DEA) Arkeologi dan Sejarah pada EHESS Prancis tahun 1991.
 
Kami sempat melihat ke lantai bawah, kondisinya lebih sumpek lagi.  Dari Lucas kami mengetahui  kalau di kompleks Istana Maimun tinggal 100 Kepala Keluarga (KK) keturunan raja–raja Deli.

“Anda bayangkan saja, jika satu KK punya 5 keluarga  (sepasang suami istri + 3 anak, red) berarti di sekitar kompleks istana Maimun tinggal 500 orang.  Sangat padat,” ujar Lucas.
         
Menurut Lucas, Pemko Medan beberapa tahun lalu sebenarnya pernah berniat memindahkan keturunan raja–raja  Deli ini ke luar istana. Namun, upaya tersebut gagal dilakukan karena tidak adanya kesepakatan antara Pemko Medan dengan keturunan Raja-raja Deli yang tinggal di lingkungan istana tersebut.  “Mereka mau pindah ke rumah tipe 90, Pemko Medan tidak sanggup, terjadilah tarik ulur hingga sekarang,” ujar Lucas.
 
Ayam Pop

Usai  melihat Istana Maimun, kami istirahat sejenak di hotel tempat kami menginap  yang berjarak sekitar 500 meter dari Istana Maimun. Usai istirahat kami makan ke luar.

Di sebuah restaurant tak jauh dari tempat kami menginap kami makan.  Kami ditawari menu makanan khas Medan.  “Di sini ada ayam pop,” ujar Yatie, pelayan  restaurant dengan dialeg Melayu Delinya.  

“Ayam Pop, apaan tu. Maklumlah kami ni orang jauh?” tanya Omrani sediki heran.   “Semacam ayam goreng itulah. Tapi rasanya gurih dan lezat. Ayam pop ini hanya ada di Medan. Di tempat bapak mungkin juga ada ayam, tapi ayamnya mungkin lain,” kata Yatie tersenyum. “Kalau begitu, bolehlah kami coba!” ujar Omrani.
 
Ketika pelayan restaurant menyuguhkan ayam pop, kami mencoba mencicipinya.  Mungkin karena ayam pop nya sudah dingin, rasanya tidak enak lagi.  “Namanya saja ayam pop, rasanya seperti makan ayam yang sudah basi saja,”  kata Omrani sedikit kesal.

Sang pelayan itu minta maaf karena ayam pop yang mereka suguhkan kepada kami memang sudah lama dimasak.  “Ayam pop ini enak kalau masih panas,” katanya sembari berlalu.
         
Esok harinya ketika mau pulang, kami menyempatkan diri membeli salak Medan yang terkenal gurihnya.  Karena hari masih pagi, kami jalan kaki mencari salak Medan. Kamilah orang pertama yang membeli salak Medan pagi itu.

Ketika hendak pulang, kami baru tersadar ternyata kami sudah jalan kaki dari tempat penginapan sejauh dua kilometer.  Kami  pulang naik bemor alias becak motor dengan membayar ongkos Rp10 ribu.  
 
Disangka harga salak itu miring, rupanya di tempat lain harganya lebih murah lagi. “Kita tertipu nih,” kata Omrani tersenyum. Rupanya di bandara, harga salak ternyata lebih murah dibandingkan dengan harga salak yang kami beli dalam Kota Medan.
 
Ketika pulang, kami baru menyadari  bahwa anggapan orang selama ini bahwa orang Medan itu kasar ternyata keliru.  Orangnya ramah, tutur bahasanya santun dan juga halus.  Maklum di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini bermukim banyak orang Melayu.  “Ingat ini Medan Bung!” ujar Omrani tersenyum. *)




×