Rabu, 13 Januari 2016 - 18:04:05 WIB

Menyambangi Makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir Jakarta

Editor: Administrator | Dibaca: 2342
Menyambangi Makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir Jakarta

Oleh: Maswito

TAK SEMUA pahlawan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Banyak pula yang dimakamkan di Taman Pemakam Umum (TPU), salah satu di antaranya adalah Bung Hatta –Proklamator Kemerdekaan RI yang dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jakarta.

Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Bung Hatta ini merupakan pejuang kemerdekaan RI yang kerap disandingkan dengan Soekarno. Tak hanya sebagai pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga dikenal sebagai seorang organisatoris, aktivis partai politik, negarawan, proklamator, pelopor koperasi, dan seorang wakil presiden pertama di Indonesia.

Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang pada tahun 1916. Pengetahuan politiknya berkembang dengan cepat saat Hatta sering menghadiri berbagai ceramah dan pertemuan-pertemuan politik. Secara berkelanjutan, Hatta melanjutkan kiprahnya terjun di dunia politik.

Sampai pada tahun 1921 Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul "Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan".

Dalam pidatonya, ia mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.

haata1

Generasi muda banyak berziarah ke makam Bung Hatta

Sebagai Ketua PI saat itu, Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Ia mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.

Aktivitas politik Hatta pada organisasi ini menyebabkan dirinya ditangkap tentara Belanda bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat sebelum akhirnya dibebaskan setelah ia berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free.

Selanjutnya pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan adanya pelatihan-pelatihan.

Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini menuai reaksi keras oleh Hatta. Ia mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

Aktif Menulis
Pada masa pengasingan di Digul, Hatta aktif menulis di berbagai surat kabar. Ia juga rajin membaca buku yang ia bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya.

Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Hatta dan Sjahrir dipindahlokasikan ke Bandaneira. Di sanalah, Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.

hatta2

Batu prasasti di makam Bung Hatta

Setelah delapan tahun diasingkan, Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Selang satu bulan, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada awal Agustus 1945, nama Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Soekarno sebagai Ketua dan Hatta sebagai Wakil Ketua.

Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks Proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hatta sebagai Wakil Presiden.

Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersohor sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian Linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.

Cari Bantuan ke India
Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum pada PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakkyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Soekarno dan Hatta ditawan ke Bangka.

Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 Desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.

Setelah kemerdekaan mutlak Republik Indonesia, Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Dia juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya.

 Tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian dia diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia. Setiap  tanggal 12  Juli seusai  memperingati Hari Koperasi,  dilakukan ziarah ke makam Bung Hatta di TPU Kusir.  Ziarah makam itu biasanya dipimpin oleh Menteri Koperasi RI.

hattalg

Penulis tabur bunga saat ziarah di makam Bung Hatta

Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal 18 November 1945 di Desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang putri yakni Meutia, Gemala, dan Halida.

Pada tanggal 14 Maret 1980 Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo pukul  8.56 WIB  setelah sebelas hari dirawat di sana. Selama hidupnya, Bung Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak 6 kali pada tahun 1963, 1967, 1971, 1976, 1979, dan terakhir pada 3 Maret 1980.

Keesokan harinya,  disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Jakarta dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat itu, Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.

Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh sebagai Pahlawan Nasional.

Namanya Diabadikan
Nama Hatta  diabadikan sebagai  nama universitas di Sumatera Barat dengan nama  Universitas Bung Hatta (UBH). Sejak 2003 hingga saat ini penggiat anti korupsi  mengabdikan nama Bung Hatta kepada tokoh atau insan Indonesia yang dikenal lingkungannya sebagai tokoh yang bersih dari praktik korupsi  dengan nama  Bung Hatta Anti Coruption Award (BHACA).  

Tokoh penerima  BHCA sejak tahun 2003 s.d 2015 adalah:
2003:
1. Erry Riyana Hardjapamekas: Mantan Direktur Utama PT Timah
2. Karaniya Dharmasaputra: Redaktur Majalah Tempo
3. M. Yamin (Alm): Kepala Pusdiklat Kejaksaan Agung
4. Syamsul Qamar: Hakim Pengadilan Negeri Langsa, Aceh Timur, Aceh
 
2004:
1. Gamawan Fauzi: Bupati Kabupaten Solok, Sumatera Barat
2. Saldi Isra: Ahli Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat
 
2008:
1. Amien Sunaryadi: Mantan Wakil Ketua KPK
2. Busyro Muqoddas: Ketua Komisi Yudisial
3. Sri Mulyani Indrawati: Menteri Keuangan
 
2010:
1. Herry Zudianto: Walikota Yogyakarta
2. Joko Widodo: Walikota Solo, Jawa Tengah
 
2013:
1. Basuki Tjahaja Purnama: Wakil Gubernur DKI Jakarta
2. Nur Pamudji: Direktur Utama PLN
 
2015
1. Tri Rismaharini : Walikota Surabaya
2. Yoyok Riyo Sudibyo: Bupati Batang


Biodata Mohammad Hatta

Nama     : Dr. Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Lahir    : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
Wafat     : Jakarta, 14 Maret 1980
Istri    : (Alm.) Rahmi Rachim
Anak :
1.    Meutia Farida
2.    Gemala
3.    Halida Nuriah
Gelar Pahlawan : Pahlawan Proklamator RI tahun 1986

Pendidikan :
1. Europese Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916)
2. Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919)
3. Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang), Jakarta (1921)
4. Gelar Drs dari Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)

Karir :
1. Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919)
2. Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921)
3. Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda (1925-1930)
4. Wakil delegasi Indonesia dalam gerakan Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931)
5. Ketua Panitia (PNI Baru) Pendidikan Nasional Indonesia (1934-1935)
6. Kepala Kantor Penasihat pada pemerintah Bala Tentara Jepang (April 1942)
7. Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Mei 1945)
8. Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (7 Agustus 1945)
9. Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945)
10. Wakil Presiden Republik Indonesia pertama (18 Agustus 1945)
11. Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (Januari 1948 - Desember 1949)
12. Ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan menerima penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana (1949)
13. Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kabinet Republik Indonesia Serikat (Desember 1949 - Agustus 1950)
14. Dosen di Sesko Angkatan Darat, Bandung (1951-1961)
15. Dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1954-1959)
16. Penasihat Presiden dan Penasihat Komisi IV tentang masalah korupsi (1969)
17. Ketua Panitia Lima yang bertugas memberikan perumusan penafsiran mengenai Pancasila (1975).

×