Minggu, 27 Agustus 2017 - 09:01:03 WIB

Mengenang Tokoh Pers Adinegoro, Monumennya Bakal Dibangun di Sawahlunto

Editor: Administrator | Dibaca: 102
Mengenang Tokoh Pers  Adinegoro, Monumennya Bakal Dibangun di Sawahlunto

PIRAMIDNEWS.COM - Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatra Barat berinisiatif membangun monumen dan miniatur rumah tokoh pers Adinegoro di Kandih, Sawahlunto. Ide ini bermula dari wacana yang dilontarkan Pemprov Sumbar yang akan menyelenggarakan Hari Pers Nasional (HPN) pada Februari 2018 mendatang.

Sebagai tokoh pers, prinsip hidup Adinegoro yang berasal dari Sawahlunto dirasa kurang tersampaikan dengan baik kepada generasi muda saat ini. Ide pembuatan monumen ini kemudian muncul untuk mengingatkan kembali anak muda Sawahlunto bahwa mereka tokoh yang bisa dijadikan panutan.

Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf seperti dilansir Republika.co.id menyebutkan, ide pembuatan monumen dan miniatur rumah sudah disepakati oleh pemerintah provinsi Sumatra Barat dengan menganggarkan APBD Perubahan 2017. Sebelumnya, ujar Ali, pihaknya mengajukan tiga opsi lokasi pembuatan monumen yakni taman segitiga di pusat kota, Kandih, dan kompleks makam M Yamin di Sawahlunto.

"Namun konsultan memilih di Kandih dengan alasan RTH (ruang terbuka hijau) sudah terbangun dan pembebasan lahan tak perlu dilakukan," ujar Ali di kediamannya, Sabtu (26/8).

Pembangunan akan dilakukan mulai Oktober 2017. Diharapkan saat gelaran HPN tahun 2018 mendatang pembangunan fisik monumen bisa rampung. Pelaksana pembangunan monumen dan miniatur rumah Adinegoro masih harus melakukan riset mendalam terkait bentuk asli rumah.

Alasannya masih ada perbedaan pendapat terkait tangga rumah gadang kediaman Adinegoro apakah berbentuk tangga kayu atau sudah terbuat dari batu. "Nantinya keberadaan monumen dan miniatur rumah sekaligus bisa digunakan sebagai museum pers," kata Ali.

Tahun 2015 lalu, Ali secara simbolis juga menerima koleksi buku bacaan milik Adinegoro. Buku yang menjadi koleksi bacaan Adinegoro sejak tahun 1930 itu diserahkan oleh ahli waris yang merupakan putra keduanya, Adi Warsita. Ia mengatakan, buku-buku itu adalah koleksi milik orang tuanya semasa hidup yang sampai kini selalu dia rawat dengan baik. "Buku tersebut ada yang berbahasa Belanda, bahasa Inggris, Jerman, dan semuanya berumur cukup tua dan antik," ungkap dia.

Bayangkan saja, jelas dia, pada tahun 1930 itu Adinegoro masih sangat muda, tapi ia sudah membaca buku-buku berbagai ilmu pengetahuan dalam tiga bahasa asing. "Sementara di masa sekarang, banyak anak-anak lebih suka membaca komik dan tidak menguasai bahasa asing," ujarnya.

Ia mengatakan, kenyataan itulah yang membuatnya tergugah untuk menyerahkan koleksi buku milik Adinegoro itu pada Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto, sebagai kota kelahiran orang tuanya di Talawi, 14 Agustus 1904. "Agar tren menciptakan manusia-manusia berkualitas, seperti Adinegoro dan Muhammad Yamin, bisa berlanjut di kota ini," kata dia.

Adinegoro memiliki nama lengkap Djamaluddin Adinegoro, terkadang dieja Adi Negoro dengan gelar Datuak Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan dan tokoh sekaligus pejuang konstitusi, Muhammad Yamin. Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman dan mendalami ilmu jurnalistik.

Ia memang lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan, dan pernah memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan pada tahun 1932 sampai 1942.

Ia juga pernah memimpin Sumatera Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof Dr Supomo, memimpin majalah Mimbar Indonesia pada 1948 sampai 1950, sebelum ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia di tahun 1951. Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional yang kemudian menjadi LKBN Antara sampai akhir hayatnya. Beliau wafat di Jakarta 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun.

Nama Adinegoro juga diabadikan sebagai hadiah jurnalistik tertinggi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1974. (rep/pnc)


Foto: Tokoh Pers Nasional, Adinegoro

 

×