Sabtu, 16 Januari 2016 - 11:40:50 WIB

Menelusuri Jejak Komunitas Cina di Tanjungpinang

Editor: Administrator | Dibaca: 1171
Menelusuri Jejak Komunitas Cina di Tanjungpinang

Oleh: Maswito

DARI berbagai sumber dijelaskan komunitas etnis Cina yang datang ke Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berasal dari Tio chu yang sengaja didatangkan secara besar-besaran dari Malaka sebagai buruh perkebunan gambir. Mereka mulai berkembang pada masa pemerintahan Daeng Celak sebagai Yang Dipertuan  Muda Riau II (1728 – 1745).
 
Pada masa pemerintahan Daeng Celak, kawasan Senggarang digalakkan sebagai  tempat  pengembangan tanaman gambir  untuk komoditi ekspor.   Daeng Celak memberikan  kelonggaran kepada etnis Cina untuk menempati  kawasan Senggarang sebagai  tempat kediaman  atau pemukiman mereka.

Sejak itulah,  kawasan Senggarang semakin berkembang  sehingga  berdirilah  rumah ibadah  untuk orang Cina  seperti vihara dan klenteng yang hingga kini masih dapat kita lihat bangunannya dan masih ramai dikunjungi.
 
Kemudian sebagai tempat pemukiman, kawasan Senggarang  dikembangkan  secara nyata  baru pada masa Daeng Kamboja  sebagai  Yang  Dipertuan  Muda  Riau III. Kemudian pada masa Raja Haji  sebagai Yang  Dipertuan  Muda Riau IV,  etnis  Cina  banyak dipekerjakan sebagai pembuat peluru/proyektil logam, dan mesiu  untuk penguasa setempat.
 
Dengan hal itu  membuat Senggarang semakin  berkembang  sebagai pemukiman  pendatang waktu itu. Sejumlah  komponen pemukiman  masa lalu dapat  dijumpai pada saat sekarang  berupa tempat  peribadatan etnis Cina dan sumur tua.
 
 
Antraksi kesenian
Di Tanjungpinang atraksi kesenian etnis Cina yang masih bertahan di antaranya tarian singa yang dikenal dengan nama barongsai, opera Cina (xìqu). Tarian ini telah berkembang pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum masehi. Barongsai dan Opera Cina ini pernah berhenti pada 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Cina di Indonesia dibungkam.

Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan etnis Cina lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan.

ct2

Kesibukan warga etnis Cina jelang Imlek

Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda dari etnis Cina yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.

“Karena dahulu barongsai dimusnahkan, maka sekarang harus dibuat yang baru. Kalau dulu kepala singa dibuat dari rangka bambu, sekarang kepala singa ada yang dibuat dari fiberglass. Warna barongsai pun dibuat lebih semarak dan lampu listrik yang berkerlap-kerlip dipakai sebagai hiasan,” ujar tokoh masyarakat etnis Cina di Tanjungpinang, Harsono.

Opera Cina dalam biasanya dimainkan dalam bentuk drama dan musik teater. “Ketika opera ini main sekitar tahun 1950-an, usia pemainnya sekitar 17 tahun, sekarang mereka sudah 60 tahun,” ujar Harsono disambut gelak tawa, tokoh masyarakat Cina di Tanjungpinang.  

Dalam opera Cina kata Harsono ada empat yakni: Sheng (Pria), Dàn (Wanita), Hua (Wajah berlukis), dan Chou (Pelawak). Seluruh peran adalah peran pria kecuali Dàn. Sedangkan dalam  opera Beijing juga terdapat empat peran utama yang pada dasarnya sama dengan peran dalam opera Cina, yaitu:

1.    Sheng (Pria)
Sheng mempunyai tiga subperan yakni laosheng (karakter pria dewasa atau pria tua); xiaosheng (karakter pemuda); wusheng (karakter pria militer yang berhubungan dengan perkelahian).
 
2.    Dàn (wanita)
Dan mempunyai tujuh sub peran yakni  dan yaitu qingyi (karakter wanita sederhana dan berbudi luhur); huadan (karakter wanita genit dan penuh semangat); guimendan (karakter gadis muda yang akan berubah menjadi qingyi atau huadan); daomadan (karakter pejuang muda wanita); wudan (versi wanita dari karakter wusheng; laodan, karakter wanita tua); dan huashan (karakter campuran yang memiliki status qingyi sekaligus sensualitas huadan).
 
3.    Jing (pria wajah berlukis)
Jing mempunyai tiga subperan yakni jing (tongchui, karakter setia yang pandai menyanyi); jiazi (karakter yang lebih kompleks dan pandai berakting);  dan wujing (karakter yang mahir berkelahi dan berakrobat).
 
4.    Chou (pria pelawak)
 Chou mempunyai dua subperan yakni chou (karakter rakyat biasa seperti pembantu, pedagang, atau siswa); dan wu chou (karakter yang memiliki sedikit peran militer dan terampil dalam akrobat). Peran-peran chou biasanya mudah disukai dan tentunya lucu.

 

ct3

Atraksi laut potensi wisata

Sedangkan warna-warna pada Topeng Opera Beijing punya karakter dan arti sendiri.  Warna merah  (Guan Yu = Dedikasi, keberanian, kejujuran, dan kesetiaan);  Hitam (Zhang Fei = Kekasaran dan keganasan); Putih (Cao Cao = Kecurigaan, kelicikan, menakutkan, dan pengkhianat); Kuning (Tu Xingsun = Ambisi, keganasan, dan berkepala dingin); Hijau (Zheng Wun= Impulsif, bengis, keras kepala, ketidaksabaran, dan ketiadaan pengendalian diri).

Biru (Xia Houdun = Keganasan, kekukuhan, dan kecerdikan); Ungu  (Lian Po = Pengendalian diri, berkepala dingin, dan berpengalaman dalam urusuan duniawi); Cat Minimalis (Jiang Gan = Ada make up khusus bagi para chou yang disebut xiaohualian, seperti sedikit polesan kapur di sekitar hidung untuk menunjukkan karakter licik dan suka berahasia).

Musik pengiring pada opera Beijing biasanya terdiri dari sekelompok kecil ansambel perkusi dan alat musik melodi tradisional. Alat musik melodi utama adalah jinghu, sebuah biola tajam kecil dengan 2 senar dan pitch tinggi.

Yang kedua adalah yueqin, sebuah kecapi berbentuk lingkaran. Alat musik perkusinya terdiri dari daluo, xiaoluo, dan naobo. Orang yang memainkan gu dan ban, drum kecil dengan pitch tinggi dan lonceng adalah konduktor dari kelompok ansambel tersebut.

Dalam Opera  Beijing ada dua  jenis melodi yakni:
1.    Xipi
Pada xipi, senar jinghu berada di kunci A sampai D. Melodinya sangat tidak beraturan, bersemangat, dan cepat serta tegas, mencerminkan asalnya dari opera Qinqiang di Cina barat laut yang melodinya keras dan bernada tinggi. Xipi umumnya digunakan untuk mengiringi babak yang mengisahkan kemenangan, pertarungan dan kegembiraan.

2.    Erhuang
Pada erhuang, senar jinghu berada di kunci C sampai G. Ini merefleksikan gaya lagu rakyat dari Provinsi Hubei Tengah selatan yang bernada rendah, lembut, dan menyayat hati. Erhuang biasanya mengiringi babak yang mengisahkan kesedihan, cinta, dan dialog yang serius.

Berkembang
Saat ini  etnis Cina berkembang di Tanjungpinang.  Mereka pun hidup damai bersama etnis lainnya seperti Melayu, Batak, Jawa,  Floros, Minang, Sunda, Madura, Flores dan lainnya. Mereka tak hanya terjun sebagai pengusaha, tapi juga politik dan bekerja sebagai aparatur sipil negara.

Di bidang politik  ada  Boby Jayanto (mantan Ketua DPRD Kota Tanjungpinang), Rudi Chua (Anggota DPRD Provinsi Kepri),  Beni dan Reni (Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, dan lainnya.   Etnis Cina memberikan peran yang sangat berarti bagi pembangunan di Tanjungpinang. (Penulis: ASN di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang)
 
 

×