Selasa, 01 Desember 2015 - 18:40:13 WIB

Jalan ke Desa Sade NTB, Mau Kawin dengan Gadis Sasak, Ini Caranya...!

Editor: Administrator | Dibaca: 1536
Jalan ke Desa Sade NTB, Mau Kawin dengan Gadis Sasak, Ini Caranya...!

Oleh: Maswito
 
SEBELUM  menjelajahi  keindahan kawasan pantai selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terkenal dengan pasir mericanya,  kami berhenti sejenak di Desa Sade.  Di desa wisata ini terdapat sekitar 150 kepala keluarga   Suku Sasak  yang masih tinggal di atas bukit dengan pola hidup primitive.  Mereka juga sangat terkenal dengan kehidupan seni budaya yang masih dipelihara dengan baik.
 
Kendati masih hidup primitive masyarakat di desa ini tampaknya  tidak  canggung  bergaul dengan wisatawan yang tiada henti berkunjung ke desa mereka. Bahkan anak-anak muda  di desa ini dengan lancarnya  menggunakan bahasa Inggris ketika melayani wisatawan mancanegara.  “Inilah desa tradisional tapi cukup terkenal di mancanegara,” ujar Mr. Syam dari PT. Lombok Exocotic Holiday, agent travel yang melayani road show kami selama di Lombok.
 
Selama dua jam singgah, kami bisa melihat dari dekat aktivitas Suku Sasak yang tinggal di desa wisata ini.  Kehidupan mereka memang masih primitiv. Kepercayaan mereka adalah gabungan antara animisme, hindu dan islam.  Dalam hal adat mereka mengacu pada animisme, di bidang kebudayaan  mereka memegang teguh ajaran Hindu.  Sedangkan agama mereka adalah Islam.  Inilah uniknya kepercayaan di desa ini yang tidak mungkin dijumpai di desa lain mana pun di Indonesia.
 
Mereka juga masih tinggal di bale gunung reteuh atau rumah  adat yang beratapkan jerami dan alang-alang serta berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Bagian dalam rumah dipisahkan oleh 2-3 anak tangga. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar mereka.
 
Bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat Suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Pintu yang rendah sengaja dibuat terutama di rumah kepala suku yang menandakan kehormatan karena ketika masuk harus menundukkan badannya.
 
Kami sempat masuk ke dalam rumah Suku Sasak.  Cukup susah jalan masuk ke dalamnya karena pintunya rendah dan berbentuk melengkung.  Di dalam rumah pun suasananya gelap – karena lampu tidak dinyalakan. “Lampu di rumah kami hanya hidup pada malam hari. Pada siang hari dimatikan. Hemat energi,” ujar salah pemilik rumah.
 
Bagi masyarakat Suku Sasak, rumah dianggap seperti gunung. Ia melambangkan keanggungan Tuhan Yang Maha Esa karena rumah adalah juga tempat upacara ritual dan ibadah. Rumah Sasak terdiri dari dua bagian, yaitu langen  dalam dan langen  luar. Langen dalam terbagi menjadi dua kamar: bali dalam  (tempat melahirkan) dan dalam bali (tempat memasak dan tidur khususnya untuk anak-anak perempuan). Langen luar  terbagi menjadi sangkok (serambi) kanan sebagai tempat tidur anak laki-laki dan sangkok kiri untuk tempat ibu menenun, menampi beras dan melakukan kegiatan rumah lainnya.
 
Pada prinsipnya bangunan Sasak terdapat  tiga Komponen:  Pertama, Bale tempat tinggal atau rumah adat masyarakat atau bale gunung rateuh. Kedua, Alang  atau tempat menyimpan bahan pangan seperti padi. Di setiap 5-10 rumah terdapat satu alang. Ketiga,  Beruga  yang terdiri dari sekenam (enam tiang) dan sekepa (bale-bale). Beruga dan sekepa digunakan untuk tempat khitanan, pertemuan, dan ritual lainnya.

 

sasak
Selama di Desa Sade, kami  jalani  lorong-lorong kecil di antara rumah-rumah adat Suku Sasak.  Kami  juga melihat bagaimana jari-jari lentik perempuan-perempuan Sasak  menenun dengan cekatan.  Rupanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari perempuan di desa ini bekerja sambilan sebagai penenun.  Sehelai kain  ikat/tenun berupa selendang kecil bisa mereka kerjakan dalam sehari. Sedangkan  kain yang lebih lebar dikerjakan bisa mencapai tiga bulanan. Sehelai kain ikat/tenun harganya mulai  dari Rp 20 ribu s.d Rp 5 jutaan tergantung lebar, motif, jenis benang dari kain itu.
 
Dalam adat Suku Sasak, perempuan “wajib”  pandai menenun.  Mengapa?  Ini syarat bagi seorang perempuan jika mau menikah dengan laki-laki pujaannya. Sang perempuan harus menyelesaikan tenunan songket tiga buah  sebelum naik kepelaminan. Ketiga songket ini diperuntukkan bagi  calon suami, calon mertua dan dirinya sendiri.  “Kalau belum pandai menenun, belum boleh kawin. Ini adat yang berlaku di sini,” ujar  Syafniatun (25) tersenyum.
“Apakah Syafniatun pandai menenun?” tanya rekan kami Edi Kusumadinata sambil bergurau.  “Sudah….., tapi yang ini belum,”  kata  Syafniatun sembari menunjuk gadis Sasak di sampingnya yang  asyik menyelesaikan tenunnya. Gadis itu pun tersipu malu melihat Edi.   
 
“Bang Afgan berminat?” tanya  Syafniatun spontan kepada Edi.  “Siapa Afgan?” tanya  Dwi kepada Syafniatun. Dwi sebelumnya berada agak jauh dari Edi sehingga dia tidak mendengar ada pembicaraan khusus antara Edi dengan Syafniatun.   “Abang ini mirif dengan Afgan, artis penyanyi terkenal Indonesia itu yang sering tampil di televisi itu,” ujar Syafniatun sembai menunjuk Edi. Dwi akhirnya tersenyum.  “Abang ini memang mirif dengan Afgan. Dia juga pintar nyanyi lho,” ujar Yanti kepada Syafniatun.
 
Sambil menenun Syafniatun  melayani pertanyaan demi petanyaan yang kami lontarkan kepada dirinya. “Motif tenunan yang biasa kami buat pun cukup beragam. Antara lain motif keker (simbol bulan madu), subhanale,  bintang, cemare, double trudak dan lainnya,” jelasnya.
Menurutnya,  motif keker dan subhanale adalah motif yang paling sulit dikerjakan, lama pengerjaannya dan paling mahal harganya.   Diperlukan 150 buah bambu untuk ngatur motifnya dan tiga bulan baru selesai. Sedangkan jenis-jenis bahan (benang) untuk tenun adalah katun biasa,  setengah sutra, serat nenas, emas tipis dan nanas.  Bahan diolah sendiri, begitu pula soal pewarnaannya. Hebatkan?
 
Kaum perempuan  Sasak memang sudah terbiasa menenun, sementara kaum prianya  juga bisa membuat kerajinan walaupun tanpa keterampilan khusus. Kerajinan yang dibuat buka untuk dijual, melainkan digunakan sendiri. Mereka bisa menganyam kipas dari daun memali (sejenis daun kelapa dan lontar). Tak hanya itu, mereka juga membuat alat musik tradisional dari kulit sapi atau kerbau.   Mereka membuat atap rumah dari ilalang, membuat topi daun untuk dipakai, juga bertugas memelihara dan membangun rumah.
 
Punya Visi dan Misi
Keseriusan Pemerintah  Nusa Tenggara Barat mengelola objek wisata di daerahnya - termasuk di Pulau Lombok memang patut diacungkan jempol.  Tak berlebihan kiranya jika Pemerintah Pusat menetapkan  Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia, setelah Bali, Yogyakarta dan Jakarta.
 
Pemerintah setempat merancang sapta pesona serta visi dan misi Desa Sade sebagai salah satu tujuan wisata di Pulau Lombok.  Sapta pesona di Desa Sade adalah aman, tertib, bersih, indah, jujur, ramah dan kenangan.  Sapta pesona,  visi dan misi itu  bisa dilihat di balai pertemuan yang mereka bangun secara swadaya.  Desa Sade punya visi untuk mewujudkan  tatanan  kehidupan masyarakat  dengan landasan:
1.    Memelihara  nilai aqidah  yang suci terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2.    Menjaga nilai  akhlak (etika) terhadap sesame insane.
3.    Meningkatkan  kesejahteraan  social  tanpa  meninggalkan  filosofi  “Iruf Gamuh Lemanuka”
 
Sedangkan misi Desa Sade ini adalah:
1.    Memegang teguh  nilai warisan leluhur  (pangadiq-adiq) sebagai salah satu  bentuk keutuhan  kesejatian diri.
2.    Menjunjung nilai kemanusiaan  sebagai wujud  rasa persaudaraan sesama.
3.    Mewujudkan  masyarakat dinamis  di tengah-tengah dinamika  perubahan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4.    Menciptakan mental  sosial  masyarakat  dalam mendukung  program pemerintah.

 

sasak2

Gadis Suku Sasak sedang menenun (Ist)
 
Kawin Culik
Dalam budaya Suku Sasak, termasuk di Desa Sade,  pernikahan dilaksanakan dengan cara menculik si calon istri oleh calon suami yang disebut dengan istilah kawin culik. Tapi tentu, penculikan calon istri oleh calon suami ini dilakukan berdasarkan aturan main yang yang telah disepakati bersama melalui lembaga adat. Mungkin inilah satu-satunya “penculikan” di dunia yang dilegalkan dan harus patuh pada aturan main.
 
Kawin culik ini akan berlangsung setelah si gadis memilih satu di antara kekasih-kekasihnya. Mereka akan membuat suatu kesepakatan kapan penculikan bisa dilakukan. Perjanjian atau kesepakatan antara seorang gadis sebagai calon istri oleh penculiknya ini harus benar-benar dirahasiakan, untuk menjaga kemungkinan gagal di tengah jalannya aksi penculikan tersebab oleh hal-hal seperti dijegal oleh laki-laki lain yang juga memiliki hasrat untuk menyunting sang gadis. Hal ini dilakukan misalnya dengan jalan “merampas” anak gadis ketika ia bersama san calon suaminya dalam perjalanan menuju rumah calon suaminya.
 
Ini pula sebabnya, penculikan pada siang hari dilarang keras oleh adat karena dikhawatirkan penculikan pada siang hari akan mudah diketahui oleh orang banyak termasuk juga rival-rival dari sang penculik yang juga menghasratkan sang gadis untuk menjadi istrinya. Disamping merupakan rahasia untuk para kekasih sang dara, penculikan ini pun harus dirahasiakan dan jangan sampai bocor ke telinga orang tua sang gadis. Kalau saja kemudian setelah mengetahui orang tuanya tidak setujui anaknya untuk menikah, di sini orang tua baru boleh bertindak untuk menjodohkan anak gadisnya dengan pilihan mereka. Keadaan ini yang disebut Pedait.
 
Meskipun pada kenyatannya orang tua boleh untuk tidak bersetuju dengan calon menantunya (yang dalam hal ini lelaki yang menculik anak gadisnya) tapi, untuk basa-basi sekaligus menghormati perasaan orang tua sang lelaki, perasaan tersebut sama sekali tak boleh ditunjukan pada saat acara midang. Demi menghindari penculikan oleh lelaki yang bukan merupakan calon menantu yang dikehendaki, begitu mendengar selentingan kabar akan adanya penculikan, maka biasanya sang gadis dilarikan ke tempat famili calon suami yang jauh dari desa atau dasan si gadis atau dasan si calon suaminya.
 
Dan karena penculikan anak gadis oleh lelaki yang akan menyuntingnya adalah satu-satunya perbuatan penculikan yang diperbolehkan adat, maka tentu perbuatan ini pun mempunyai aturan permainan yang telah di atur oleh adat. Keributan yang terjadi karena penculikan sang gadis di luar ketentuan adat, kepada penculiknya dikenakan sangsi sebagai berikut :
·         Denda Pati
Denda Pati adalah denda adat yang harus ditanggung oleh sang penculik atau keluarga sang penculik apabila penculikan tersebut berhasil tapi menimbulkan keributan dalam prosesnya.
·         Ngurayang
Ngurayang adalah denda adat yang dikenakan pada penculik gadis yang menimbulkan keributan karena penculikn tidak dengan persetujuan sang gadis. Karena sang gadis tidak setuju dan sang penculik memaksa maka biasanya penculikan ini gagal.
·         Ngeberayang
Ngeberayang adalah denda adat yang harus dibayar oleh sang penculik atau keluarganya dikarenakan proses penculikan terjadi kegagalan dan terjadi keributan karena beberapa hal seperti penculikan digagalkan oleh rival sang penculik, dan sebagainya.
·         Ngabesaken
Ngabesaken adalah denda adat yang dikenakan kepada penculik karena penculikan dilakukan pada siang hari yang pada akhirnya terjadi keributan.
 
Denda adat yang harus dibayar tersebut apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran seperti yang telah dikemukakan di atas adalah dalam bentuk uang dengan nominal tertentu dan telah diatur oleh adat. Selanjutnya uang denda yang dibayar oleh penculik yang gagal itu akan diserahkan kepada kampung melalui ketua kerame yang kemudian diteruskan kepada kepala kampung untuk kesejahteraan kampung.
 
Bilamana seorang gadis berhasil diculik, maka pada malam itu juga dilanjutkan dengan acara mangan merangkat, yaitu suatu upacara adat yang menyambut kedatangan si gadis di rumah calon suaminya. Hal ini merupakan upacara peresmian masuknya di gadis dalam keluarga calon suaminya. Dalam mangan merangkat ini adalah semacam penyambutan dan perkenalan untuk sang gadis terhadap keluarga calon suaminya.

Acara mangan merangkat ini diawali dengan totok telok yaitu calon mempelai memecahkan telur bersama-sama pada perangkat ( sesajen ) yang telah disediakan. Totok telok adalah lambang kesanggupan calon mempelai untuk hidup dengan istrinya dalam bahtera rumah tangga.
 
Baru kemudian pada pagi harinya, keluarga calon suami sang gadis (dalam hal ini yang telah menculiknya) akan mendatangi rumah orang tua sang gadis untuk memberitahukan bahwa anak gadisnya dipersunting oleh anaknya. Peristiwa datangnya keluarga sang lelaki ini disebut dengan Masejatik atau Nyelabar. Tujuan utama dari Masejatik adalah media perundingan guna membicarakan kelajutan upacara-upacara adat perkawinan serta segala sesuatu yang dibutuhkan dalam perkawinan.

Dalam hal ini yang pertama-tama harus diselesaikan adalah acara akad nikah. Pada waktu akad nikah tersebut orang tua si gadis memberikan kesaksian di hadapan penghulu desa dan pemuka-pemuka masyarakat serta para tokoh adat lainnya. Dalam acara ini bilamana orang tua si gadis berhalangan, ia dapat menunjuk seseorang untuk mewakilinya.
 
Dan acara ini berpuncak pada adat perkawinan yang disebut dengan sorong doe, yakni saat di mana rumah kediaman orang tua si gadis akan kedatangan rombongan dari keluarga mempelai lelaki. Kedatangan rombongan sorong doe ini disebut nyongkol. Acara inti dari sorong doe adalah tentang pengajuan dana yang diminta oleh orang tua sang gadis untuk menyambut para penyongkol yang disebut dengan kepeng tagih (uang tagihan).

Uang tagih lainnya juga berupa kepeng pelengkak yaitu uang tagih dari kakak laki-laki mempelai wanita yang belum menikah, sedangkan kalau ada uang kakak perempuan perempuan mempelai wanita yang belum menikah tidak ada uang tagihannya.
 
Berminat  kawin dengan gadis Sasak? Anda harus berani menculiknya. Tapi jangan sampai salah culik kalau badan ingin selamat !
 
Penulis: ASN  Dinas Parwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri
 

×