Rabu, 25 November 2015 - 09:35:34 WIB

Bila ke TPU Kusir, Jangan Lupa Ziarah ke Makam Buya Hamka

Editor: Administrator | Dibaca: 4212
Bila ke TPU Kusir, Jangan Lupa Ziarah ke Makam Buya Hamka

“BILA anda ke Taman Pemakaman Umum (TPU)  Tanah Kusir, jangan lupa ziarah ke makam Bung Hatta dan Buya Hamka. Kedua makam pahlawan nasional yang berasal dari Minangkabau itu berdekatan. Jaraknya sekitar 100 meter.”

Itulah nasehat seorang sahabat kepada saya ketika menyampaikan niat hendak berziarah ke TPU Kusir. Begitulah, usai ziarah di  makam Bung Hatta, saya langsung menuju ke makam Buya Hamka.

Kepada penjaga makam  yang tengah memotong rumput  saya bertanya di mana  posisi makam  Hamka.   Maklum di TPU Tanah Kusir, ribuan orang dimakamkan. Kalau tak ditanya, nanti tak bakal ketemu.

“Pak… di mana posisi makam Hamka?” tanya saya serius. dengan ramah penjaga makam tersebut menjawab, “tuh di sana…..!”  
katanya sembari menunjuk makam  Hamka dari kejauhan.  Sambil berjalan menuju makam Hamka, saya perhatikan nama – nama  yang ada di nisan makam itu. Saya baca satu persatu, ternyata nama mereka tidak asing lagi bagi saya.  Sering  terdengar.

Ternyata mereka adalah pahlawan nasional dan orang orang ternama di republik  ini yang dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Sebut saja,  Dr. Soetomo - pendiri  Boedi Oetomo,  Amir Syamsuddin (Perdana Menteri RI pertama), Mohammad Roem, Ali Sadikin (mantan Gubernur Jakarta),  dan sejumlah nama pahlawan nasional dan orang ternama di republik ini.
 
Saya sempat bertanya kepada petugas makam, mengapa pahlawan nasional seperti ini tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP)? Sang penjaga makam itu menjawab beberapa alasan. Satu di antaranya yang saya tangkap adalah wasiat yang bersangkutan sebelum meninggal dunia kepada keluarganya.  Hatta misalnya, tak mau dimakamkan di TMP karena  selalu ingin dengan rakyatnya.

“Kalau Hamka?“ “Itu juga wasiatnya sebelum meninggal dunia,” ujar penjaga makam tersebut. Ketika  melihat kondisi makam Hamka, saya agak terkejut.  Makam  Hamka berbeda dengan makam lain yang ada di sekitarnya.

Jika makam di sekitarnya ada tanggam (tanah yang ditinggikan), makam Hamka tidak.   Saya usap nisan Hamka.  Setelah itu saya berdoa khusus untuk ulama kharismatik yang saya kagumi ini.

Dibandingkan makam lainnya di TPU Kusir,  selain makam Bung Hatta, makam Hamka sering diziarahi oleh pengunjung. Jika di makam lain,  pengunjung hanya sekedar melihat lalu pergi, tak demikian halnya di makam Hamka.  Seringkali – terutama pengunjung yang beragama Islam memanjatkan doa di makam Hamka.
            
Pada bulan-bulan menjelang meninggalnya, Hamka sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ia muncul di layar TVRI sekitar Magrib. Ia bertutur sangat baik, tentu saja tanpa teks. Suaranya tenang. Wajahnya teduh. Ia tidak menghujat, tidak mengancam, dan tidak menakut-nakuti. Dengan menatap dan mendengarnya, orang merasa sejuk dalam kerindangannya. Hamka mengayomi.

hamka wit



Selalu Merasa bodoh
HAMKA yang lahir 17 Februari 1908, di Desa Kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat adalah orang yang selalu merasa bodoh, sehingga ia terus belajar. Kemudian saat kecil ia merasa miskin.  Ibu bapaknya bercerai saat usianya masih kecil. Saat ke rumah ibu, ia bertemu dengan ayah tirinya. Saat ke rumah ayah, ia bertemu dengan ibu tirinya. Maka ia merasa diketuk oleh kemiskinan akan kasih sayang orangtua.  

Kemudian Hamka buka jendela, dan lompat. Ia pergi dari rumah agar terhindar dari rasa miskin hati, agar tidak tersakiti hatinya karena keadaan orangtuanya itu. Kemudian saat masih kecil, Hamka adalah  seorang yang nakal. Tetapi kenakalan ini dikelola dengan baik, sehingga kelak ia pun  berani melawan Presiden.

Tercatat dalam perjalanan sejarah Hamka pernah melawan kepada presiden Soekarno dan Soeharto karena merasa tak sepaham.  Selama dua tahun (1964- 1966), Hamka dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro Malaysia.

Semasa di penjara itulah ia mulai menulis Tafsir al-Azhar sebanyak 5 jilid yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Sekeluar dari penjara, Hamka dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Kemudian perlawanan terhadap ketakbenaran dilanjutkan Hamka. Pada waktu aliran kepercayaan akan ''diresmikan'' oleh Presiden Soeharto, ia tidak setuju. Perlawanan dilakukan di MPR dan Hamka kalah. Aliran kepercayaan dikuatkan dalam bentuk ketetapan MPR.
Pada hari-hari berikutnya oleh petinggi pemerintah digencarkan adanya acara  Natal Bersama, sampai ke daerah-daerah.

Sebagai pimpinan MUI, Hamka tidak  menyetujuinya. Keluarlah fatwa MUI, yang melarang ummat Islam untuk ikut Natal Bersama. Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara marah. Hamka menjawabnya dengan berhenti jadi  Ketua Umum MUI.

Watak pemberontak Hamka tampaknya diperoleh dari Dr Abdul Karim Amrullah, ayahnya. Karena melawan Belanda, ayah Hamka dibuang ke Sukabumi dan kemudian  meninggal di Jakarta. Secara khusus, ayahnya memberi julukan Hamka sebagai Si Bujang Jauh, karena kegemarannya merantau.

Seperti kebanyakan para remaja Minang pada masa lalu, Hamka suka merantau. Baru berusia 18 tahun ia naik haji tanpa izin orang tuanya. Sepulang dari haji, sambil bekerja setengah tahun di sana, Hamka tidak balik ke rumah, melainkan ke Medan menjadi guru di perkebunan. Ia baru pulang setelah dipanggil ayahnya,  untuk dinikahkan.
 
Hamka berguru tentang Muhammadiyah kepada AR Sutan Mansur, kakak  iparnya di  Pekalongan. Sejak itu, ia terus aktif di Muhammadiyah, sampai menjabat di pimpinan pusat. Hamka mengundurkan diri dari PP  Muhammadiyah pada tahun 1972, ketika muktamar di Makassar. Setelah itu, ia aktif di Majelis Ulama Indonesia  (MUI).

Hamka pada 1931 ditugasi oleh PP Muhammadiyah untuk ke Makassar. Tugasnya adalah menjadi mubaligh. Hamka mukim selama tiga tahun. Rupanya dia merekam kenangan hidup di Makassar itu untuk suatu kali muncul dalam romannya yang terkenal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939).

Khusus tentang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menjelang G-30-S meletus, terjadi polemik hebat. Kalangan kiri, di antaranya Pramudya Ananta Toer, melalui ruang budaya/sastra Lentera di harian Bintang  Timur, Hamka diserang.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, menurut mereka, plagiat  dari roman Alphonse Karr, sastrawan Prancis, yang sudah disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi. Kehadiran roman tersebut di tengah masyarakat  pencintanya tetap tak tergoyahkan.

hamka2


Hamka yang jadi doktor dan profesor, ini merupakan salah seorang tokoh Islam yang lengkap keulamaannya. Ia bukan hanya dikenal sebagai  mubalig atau dai yang komunikatif, namun juga seorang sastrawan yang  piawai dan  produktif menulis soal-soal keislaman.
Tak kurang dari 118 buku yang ditulisnya. Ini di luar karangan-karangan panjang  dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam  beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Juga di luar buku-buku yang ditulis  orang lain mengenai dirinya.
      
Pendek kata, hampir tidak ada satu bidang keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak dikupasnya. Dari bidang sastra, seni, sejarah, budaya, biografi, tafsir Alquran, akidah, filsafat, tasawuf, dakwah hingga  tanya jawab soal agama. Dalam bidang yang terakhir ini, jawaban Hamka tegas dan tuntas, dari soal perkawinan beda agama seperti dilakukan Emilia Contessa-Rio Tambunan, soal makhluk hidup di planet lain, kyai dukun, hingga soal pemujaan berlebihan terhadap Sheikh Abdul Qadir Jaelani.

Selain lewat tulisan, Hamka juga giat berdakwah melalui lisan -- baik di radio, televisi maupun berceramah secara langsung di depan jamaah. Pada 1959 setelah Konstituante dibubarkan, Hamka -- yang menjadi wakil rakyat dari Masyumi hasil pemilu 1955 -- pun mengakhiri aktivitas politiknya.

Sejak itu ia memusatkan  kegiatannya pada bidang dakwah. Apalagi ketika itu ia juga menjadi imam Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari masjid di kawasan elit Jakarta itu setiap usai salat Subuh Hamka  memberikan kuliah. Pada sekitar tahun 1970-an hingga menjelang wafatnya, kuliah subuh Hamka selalu dipadati jamaah dari berbagai kawasan Jakarta. Jamaahnya bahkan membludak hingga tangga masjid. Di RRI dan TVRI, ceramah dan tanya-jawab Hamka -- yang mempunyai acara
tetap di dua media itu -- juga selalu ditunggu para pendengar dan pemirsa.
 
Tokoh Pembaharu
MENYIMAK berbagai karya tulis, ceramah, dan kuliah-kuliah Hamka, sulit  memposisikan ulama kelahiran  Minangkabau ini dalam peta keulamaan dan pemikiran Islam di Indonesia.

Dalam hal yang terakhir ini, Hamka  boleh  dibilang mempunyai kesamaan dan sekaligus perbedaan dibandingkan dengan  dua ulama dan pemikir Islam yang selama ini dikenal mewakili kelompok besar umat Islam di Indonesia: KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari.

KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Pengikutnya kini berjumlah puluhan juta orang. Ia dikenal sebagai pembaru ajaran Islam dari 'penyakit' TBC  (takhayul, bid'ah, dan c/khurafat). Ungkapan dia yang terkenal di kalangan  Muhammadiyah adalah 'Semua
ibadah diharamkan kecuali ada perintah dan semua  muamalah (masalah dunia) boleh dilakukan kecuali ada larangan.'
       
Dalam hal itu, Hamka sama dengan KH Ahmad Dahlan. Ia juga dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan sekaligus pembaru. Bedanya, kalau ajaran Dahlan 'kering' dari spiritualisme atau kerohanian, Hamka justru sebaliknya.

Ia merupakan penganjur dan bahkan menulis sejumlah buku tentang tasawuf. Ia sangat fasih mengupas sisi kehidupan spiritual Nabi
Muhammad dan para sahabat, serta ajaran dan personifikasi dari para tokoh-tokoh sufi/tarekat dari abad pertengahan hingga yang ada di  nusantara.
 
Hamka sering mengutip ayat Alquran Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub yang menjadi dasar ajaran tawawuf. Ayat yang bermakna 'Bukankah dengan menyebut Asma Allah (zikir) hati menjadi tenang' (QS 13.30) itu pulalah yang menjadi pegangan  kaum nahdliyin dalam mengamalkan kehidupan kesufian/kerohanian. Di sinilah kesamaan Hamka dengan KH Hasyim Asy'ari.
 
 
Oase

TOKOH Islam yang cendekia ini, tidak hanya diakui di Indonesia. Di Malaysia, Hamka sangat dikenal. Tidak heran bila Universitas Kebangsaan memberikan penghargaan gelar doktor honoris causa (HC) tahun 1974. Universitas Al Azhar, Mesir tahun 1958, jug memberikan gelar doktor HC.

Secara resmi, di Indonesia belum ada yang memberi penghargaan. Namun, penghargaan yang tak terucapkan, seperti pasir di pantai, tak terhitung banyaknya.

Pada situasi yang gersang sekarang, orang seperti Hamka diperlukan. Perjalanan kering di padang pasir memerlukan tempat singgah untuk melepas dahaga sambil mengembalikan tenaga baru.  Hamka ibarat oase di tengah kegersangan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini. 

Benar, kehadiran Hamka diperlukan lagi. Hamka tidak berkata-kata, tapi juga memberi contoh bersikap yang tegas dan berperilakku  yang benar.  Siapakah lagi ulama yang seperti Hamka kini? Mungkin ada, tapi kalibernya tidak sebesar Hamka.

Hamka telah pulang ke rahmatullah, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam.  Hamka bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Diakhir tulisan ini saya ingin mengutip pesan Hamka: Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak
pernah jatuh.  Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk  mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua. (maswito)
 
 
Nama               : Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)
Istri                  : Siti Raham
Panggilan          : Buya Hamka
Lahir                 : Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908
Meninggal         : Jakarta, 24 Juli 1981
Ayah                : Syekh DR.  Abdul Karim bin Amrullah
Ibu                   : Safiah
    

×