Sabtu, 19 Desember 2015 - 09:56:49 WIB

Angkernya 'Rimbo Buriang' di Kuantan Singingi

Editor: Administrator | Dibaca: 2737
Angkernya 'Rimbo Buriang' di Kuantan Singingi

Oleh: MASWITO
 
RIMBO BURIANG kini menjadi salah satu hutan lindung di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, dengan nama Hutan Lindung Rimbo Buring. Rimbo  Buriang, begitu sebutan hutan lindung yang sekarang berada di Kecamatan Sentajo Raya ini dari dulu memang sudah terkenal dengan keangkerannya, bahkan sampai sekarang.
 
Bila  hendak masuk ke Rimbo Buriang, jangan sekali-kali mengeluarkan kata-kata kotor. Jika kata kotor itu terucap, alamat badan akan tersesat di dalamnya.  Kata orang Sentajo, “Kalau la masuak ka Rimbo Buriang indak kan kaluar-kaluar ro” (Kalau sudah masuk ke Rimbo Buriang tidak akan keluar)  sebelum dijemput oleh dukun atau orang pandai.
 
Saya masih ingat sekitar tahun 1970-an ketika masih duduk di bangku SD, ada orang yang tersesat di Rimbo Buriang karena tidak mau mendengar nasehat Ino Rasa,  salah seorang dukun alias orang pandai yang tahu betul lika-liku tentang Rimbo Buriang.
 
Ino Rasa – kini sudah almarhum menasehati agar orang itu jangan masuk Rimbo Buriang karena bertepatan dengan waktu shalat Jumat.  Ada pantang larang tidak tertulis dan diyakini masyarakat setempat jika mau masuk ka Rimbo Buriang.

“Kalian jangan masuk ke Rimbo Buriang karena waktunya tak tepat. Kalau mau masuk selesai shalat Jumat  saja,” nasehat  Ino Rasa. Namun orang itu tak menggubris nasehat itu.  Tak lama berselang apa yang dikhawatirkan Ino Rasa menjadi kenyataan.
 
Waktu terus berlalu, seperti biasa orang yang masuk Rimbo Buriang pukul 5 sore  pasti sudah keluar  melewati jalan setapak depan rumah Ino Rasa.  Namun tidak dengan orang tadi, mereka tidak  keluar-keluar.
 
Ino Rasa sudah menduga, orang itu sudah tersesat di dalam Rimbo Buriang.  Dan, itu memang betul.  Menjelang suara azan mengumadang dari Masjid Muklishin Muaro Sentajo,  Ino Rasa  pergi ke Rimbo Buriang dan menemukan orang yang dilarangnya masuk itu.
 

buring monyet 2

Sejumlah Monyet masih banyak ditemukan di Hutan Buring


Mereka tampak kelihatan bingung di tepi hutan.  Upaya mereka untuk keluar, tapi tak tahu mana jelang keluarnya.  Kata masyarakat setempat, orang yang sesat tadi jalan di situ-situnya je nye tapi ndak obe jalan keluar ro (jalan di sekitar itu saja, tapi tak tahu mana jalan keluar).
 
Dengan kekuatan mantranya Ino Rasa lalu memanggil orang itu. Mendengar suara Ino Rasa, barulah orang tadi sadar bahwa mereka tersesat.
 
“Kalian tadi sudah dinesehati, tapi kalian pengore (keras hati), Itulah akibatnya kalian tersesat di dalam rimbo ini,”  ujar Ino Rasa dengan nada sedikit kesal.
 
Setelah ubun-ubun mereka ditawari Ino Rasa, mereka pun pulang dengan perasaan bersalah dan meminta maaf kepada Ino Rasa bahwa mereka tidak akan berbuat lagi.


Ayam hutan
Kejadian lain  juga pernah dialami oleh Kakek Manjamin – orang memanggilnya Niniak Manjamin. Pekerjaaan  dan hobi Niniak Manjamin memang tak lazim di Kenegerian Sentajo.

Sehabis menoreh karet,  Niniak Manjamin selalu  berangkat ke Rimbo Buriang “mamikek” (manangkap) ayam rotia – sejenis ayam liar berukuran kecil tapi kokoknya nyaring yang banyak berkeliaran di Rimbo Buriang.
 
Niniak Manjamin tak sadar - waktu suara adzan maghrib berkumandang, Niniak Manjamin tetap saja mamikek ayam rotia. Akhirnya ketika mau pulang, Niniak menjamin tak tahu jalan keluar.  Ino Rasa  sudah mengetahui gelagat ini  dan pergi menjemput  Niniak Manjamin yang tersesat di Rimbo Buriang.

Sesampai di Rimbo Buriang,  Ino Rasa menemukan Niniak Manjamin  kebingungan mencari jalan keluar. "Min, mengapo aang di situ (Min, mengapa kamu di situ),” tanya Ino Rasa.
 
“Ambo sosek wo (Saya tersesat Kak),” kata  Niak Manjamin yang memangil Ino Rasa dengan sebutan wo atau kakak. “Aang nak keluar atau indak Min (Kamu mau keluar atau tidak Min),” tanya Ino Rasa.
 
“Iyo  Wo, ambo awi dan lapar (Iyo Kak, saya haus dan lapar),” jawab  Niak Menjamin. Ino Rasa lalu menasehati  Niak Manjamin. “Kalau mau keluar, seluruh ayam rotia  hasil tangkapannya harus dilepas dengan ikhlas.  Akhirnya Niak Manjamin melepas ayam rotia tangkapannya itu.  
 
Betapa terkejutnya Niak Manjamin ternyata tempat ia tersesat rupanya tak jauh dari rumah  Ino Rasa.

buring harmau

buring5

Harimau dan hutan Buring 
 
Cerita tentang keangkeran  Rimbo Buriang masih terngiang hingga kini. Waktu masih kecil, saya memang sering ikut menemani Ino Rasa ke Rimbo Buriang  mencari kayu, rotan, cabodak utan (buah nangka), obat-obatan, dan lainnya yang banyak ditemukan di situ.
 
Bagi Ino Rasa,  Rimbo Buriang ibarat halaman rumahnya. Hampir saban hari Ino Rasa ditemani  Ino Palia pergi ke tempat itu. Sebagai salah seorang cucu Ino Rasa, kami para cucunya – bahkan orang se-Kenegerian Sentajo memahami betul “kepandaian” Ino Rasa.
 
Ino Rasa  seakan punya “indra keenam.”  Jika orang mau masuk ke Rimbo Buriang banyak yang minta nasehat kepadanya. Jika ada orang tersesat, dipastikan juga minta bantuan  Ino Rasa supaya bisa keluar.
 
Rimbo Buriang dulunya sungguh identik dengan Ino Rasa. Banyak kejadian aneh  yang saya lihat selama menemani Ino Rasa keluar masuk Rimbo Buriang. Misalnya saja, ayam rotia  yang terkenal liar, di hadapan Ino Rasa menjadi jinak.
 
Binatang-binatang buas seperti harimau, babi, ular jika  berhadapan dengan Ino Rasa seakan menghindar.  Begitu fenomenanya Ino Rasa dengan Rimbo Buriang itu.

Waktu masih hidup, kata-kata yang diucapkan  Ino Rasa sering dijadikan rujukan bagi warga di Kenegerian Sentajo – terutama dalam hal perundingan.  Walaupun berperawakan kecil,  Ino Rasa sangat disegani, pendapatnya sering  diminta orang kampung. Pertolongannya juga sering dinantikan.  
 
Dikenal sampai Belanda
 
Dalam catatan sejarah Rimbo Buriang pada masa perjuangan dulu merupakan tempat pengungsian para pejuang melawan Belanda dan Jepang. Salah satu bukit menuju Rimbo Buriang yakni Bukit Gajah Mati  yang sekarang berada di Kenegerian Kampung Baru Sentajo– merupakan benteng pertahanan pejuang melawan penjajah setelah Kubu di Pulau Komang Sentajo.  
 
Begitu juga halnya dengan Tanah Gontiang dan Saleko Buriang yang juga tempat para pejuang mengintai musuh dalam perang gerilya.  (pejuang dulu menyebutnya perang gorila). Tak kalah angkernya dengan Rimbo Buriang, Saleko Buriang pada masa perjuangan dulu salah satu tampat yang ditakuti oleh Belanda dan Jepang jika keluar pada malam hari.
 
Ketika melancong ke Belanda, saya memang menemukan sebuah catatan berbahasa Belanda yang menyebutkan nama  Rimbo Buriang, Bukit Cokiak, Kubu, Toar dan lainnya di Kuantan Singingi sebagai basis perjuangan melawan Belanda.  Saya yakin, Rimbo Buriang yang ada dalam catatan Belanda itu adalah Rimbo Buriang yang berada di kampung saya Kenegerian Sentajo.
 
Saya pernah menanyakan hal itu kepada Prof Suwardi MS – sejarawan Riau yang berasal dari Kenegerian Sentajo tentang itu. Dia mengatakan, ”tak ada lain rimbo di Kuantan Singingi yang bernama Rimbo Buriang selain yang terletak di Kenegerian Sentajo.
 
* Penulis berasal dari Muaro Sentajo, tinggal di tepi Hutan Lindung Rimbo Buring.

×