Advertorial kab-siak
Rabu, 13 Juni 2018 - 21:22:33 WIB

Dentum Dentam Bunyi Meriam Buluh di Malam Hari Pertanda Festival Dimulai

Editor: Administrator | Dibaca: 32
Dentum Dentam Bunyi Meriam Buluh di Malam Hari Pertanda Festival Dimulai

PIRAMIDNEWS.COM - Dentum-dentam bunyi suara meriam di tengah malam buta, bertanda dimulainya Festival Meriam Bambu II Kabupaten Siak tahun 2018. Setelah tahun lalu pelaksanaannya dianggap sukses, tahun ini dilihat dari jumlah pesertanya juga terlihat sukses.

"Tradisi bunyi meriam sudah ada sejak zaman kerajaan Siak dahulu kala, bunyi meriam semasa itu sebagai pemberi tanda berita baik dan berita duka seperti berita kematian dan berita kelahiran seorang putra Sultan," tutur Kepala Dinas Pariwisata dan Ekraf Kabupaten Siak H Fauzi Asni saat ditemui di lokasi berlangsungnya acara, Selasa (12/6/2018).

Fauzi menambahkan, Festival Meriam Buluh ini diadakan untuk mewarisi tradisi masa lalu kepada generasi sekarang, yang menurutnya sudah lama hilang.

"Kita buat kegiatan ini, tradisi bunyi meriam buluh ini sudah ada sejak masa kerajaan, namun seiring perkembangan zaman,  tradisi ini hilang, makanya kita wariskan tradisi ini kepada generasi sekarang," terang Fauzi.

Menurutnya, sebagai daerah tujuan wisata, Kabupaten Siak harus memiliki event sebagai pendukung objek wisata yang sudah ada sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang berwisata ke Kabupaten Siak.

Hal senada juga dikatakan oleh warga Siak Said Muzani bahwa asal muasal meriam di masyarakat Siak adalah tradisi kerajaan dahulu sebagai pemberi tanda, apabila ada berita dari Sultan baik berita duka maupun gembira seperti berita kematian dan berita kelahiran seorang putra Sultan.

"Begitu juga di bulan Ramadhan sebagai pertanda Ramadhan sudah masuk mengabarkan ke seluruh pelosok negeri maka dibunyikan meriam karena pada masa dahulu tidak ada alat komunikasi," ungkap Muzani.

Muzani mengungkapkan lagi, begitu juga menandakan datangnya 1 Syawal sudah dekat, pada zaman dahulu ditandai dengan menyalakan lampu colok di depan rumah masing-masing dan dibunyikan meriam. Para remaja tanggung membuat meriam dari bambu untuk dibunyikan saat bulan Sya'ban menjelang Ramadhan dan malam 7 likur 27 Ramadhan menjelang masuk Syawal.

"Seperti saat ini memasuki malam 7 likur atau 27 Ramadhan lampu colok dan bunyi meriam dimainkan oleh anak bujang tangung, juga menandakan 1 Syawal akan datang," pungkas Muzani.

Acara yang berlangsung di Tepian Bandar Sungai Jantan, depan Istana Siak berlangsung cukup meriah terlihat ratusan masyarakat Kota Siak yang turut menyaksikan acara tersebut. Dari 46 orang peserta yang bertanding setelah panitia mengumumkan pemenang, berhak memperoleh Juara 1,2,3 warga berasal dari Kampung Paluh. Sedangkan Juara 4 diperoleh warga Benteng Hulu. (sugianto)

Foto: Festival meriam buluh sebagai sarana menghidupkan kembali budaya tradisional Kabupaten Siak. 

×