Advertorial kab-rohil
Jumat, 17 Mei 2019 - 22:39:32 WIB

Komoditas Hasil Perkebunan dan Pertanian Penunjang Sektor Perekonomian Warga di Rokan Hilir

Editor: Administrator | Dibaca: 67
Komoditas Hasil Perkebunan dan Pertanian Penunjang Sektor Perekonomian Warga di Rokan Hilir

Rokan Hilir-Sektor perekonomian di suatu wilayah pada dasarnya terdiri atas dua bagian, yaitu sektor basis dan sektor non basis. Sektor basis yaitu sektor ekonomi yang memenuhi permintaan pasar atas barang-barang dan jasa-jasa keluar batas perekonomian suatu wilayah.

Semakin banyak sumber daya yang dimiliki, maka selain akan dapat memenuhi kebutuhan wilayah bersangkutan juga dapat memenuhi permintaan dari luar batas wilayah tersebut. Metode Location Quotient (LQ) dapat menjelaskan basis tidaknya suatu sektor atau komoditi dengan cara membandingkan peranan suatu sektor atau komoditi dalam suatu wilayah dengan peranan sektor atau komoditi tersebut berdasarkan harga konstan.

 

Untuk mendukung hasil LQ dapat dilakukan perhitungan nilai surplus pendapatan dan nilai multiplier effect/efek pengganda pendapatan dan pengganda kesempatan kerja yang gunanya untuk mengetahui dampak sektor atau komoditi tersebut pada peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja di suatu wilayah.

Wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau, memiliki luas wilayah 8.881,59 Km2, terdiri dari belasan kecamatan. Penerimaan hasil Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) miliar, dengan sumbangan terbesar berasal dari sektor Pertambangan 73,32 persen, sektor Pertanian 15,12 persen dan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 5,72 persen.

Potensi sektor pertanian paling menonjol adalah tanaman pangan yakni produksi padi 143.994 ton dan kedelai 31.446 ton. Kedua tanaman komoditas itu terkonsentrasi di Kecamatan Bangko, Rimba Melintang dan Kecamatan Kubu.

Kepemimpinan Bupati H Suyatno memiliki program peningkatan investasi di berbagai sektor. Program ini dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat yang saat ini banyak bergantung di sektor perkebunan karet dan kelapa sawit.

Investasi ini dinilai memiliki peranan penting untuk membuka lapangan kerja yang baru dan meningkatkan nilai ekonomi produk dari perkebunan, pertanian maupun perikanan yang berkembang cukup bagus di Kabupaten Rokan Hilir.

Kabupaten Rokan Hilir memiliki potensi perkebunan yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Wilayah perkebunan yang sangat luas di Kabupaten Rokan Hilir menjadi salah satu faktor pendorong tingginya produktifitas komoditas perkebunan.

Produktifitas perkebunan yang ada di Kabupaten Rohil terdiri dari komoditas kelapa sawit, Kelapa, Karet, Kopi, Pinang dan Kakao. Karet merupakan komoditas perkebunan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman perkebunan unggulan. Seperti Perkebunan karet di Rokan Hilir memiliki potensi luasan yang cukup tinggi dan tersebar di seluruh Kecamatan.

Karet yang dihasilkan masyarakat dijual ke Pekanbaru dan Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan Rokan Hilir belum memiliki pabrik pengolahan karet sendiri. Harapan masyarakat adalah Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dapat mendirikan pabrik pengolahan karet, sehingga pemasaran tidak terlalu jauh dan dapat meminimalisir biaya transportasi. Selain itu produksi karet setengah jadi (ojol) di Rokan hilir juga tergolong tinggi.

Informasi dari masyarakat di daerah Tanah Putih menyebutkan bahwa produksi ojol dapat mencapai 200 ton/minggu, untuk wilayah lain bisa mencapai 500-1000 ton/minggu.

Komoditas unggulan lainnya di Rokan Hilir yaitu Kelapa merupakan tanaman yang mempunyai fungsi ekonomis tinggi. Hal ini disebabkan semua bagian tanaman kelapa apabila diolah lebih lanjut dapat dijual. Mulai dari akar, batang, daun hingga buahnya dapat dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis.

Sebagai contoh adalah manfaat ekonomis dari bagian buah kelapa. Buah kelapa dapat diolah menjadi kopra, minyak kelapa, bahan makanan dan virgin coconut oil (VCO). Saat ini VCO merupakan produk yang sedang digemari di pasaran.

 

Wilayah yang memiliki perkebunan kelapa terluas berada di wilayah kepulauan dan berpantai sehingga banyak didominasi oleh tanaman kelapa. Untuk daerah dengan luasan dan produksi kebun kelapa paling rendah adalah pada Kecamatan Bagan Sinembah dan Simpang Kanan.

Sebagian besar penjualan untuk kelapa berupa buah dan kelapa cukil atau kopra. Pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan potensi kelapa yang ada di Rokan Hilir. Pendidikan dan pelatihan serta mencari pasar untuk hasil olahan kelapa sangat diperlukan.

Sedangkan untuk komoditas Kelapa Sawit, saat ini masih menjadi tanaman primadona perkebunan. Kelapa Sawit merupakan produk unggulan perkebunan yang paling banyak diminati oleh masyarakat Riau. Begitu juga di Kabupaten Rokan Hilir, masyarakat lebih memilih bertanam sawit dibandingkan dengan padi atau jenis tanaman lainnya.

Dalam menjaga kualitas sawit di Rohil, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir melalui Dinas Perkebunan Rohil menyerahkan bantuan 50 liter Racun (pestisida) merek Decis kepada dua kelompok tani, yaitu Kelompok Tani Maju Bersama dan Kelompok Tani Matahari Kahuripan, yang berasal dari Kecamatan Simpang Kanan dan Kecamatan Bagan Sinembah di Raya belum lama ini.

Coklat atau kakao juga merupakan tanaman perkebunan yang diambil buahnya. Kisaran produksi perkebunan coklat di Kabupaten Rokan Hilir ini adalah 0,4-20,8 ton/ha/tahun. Kakao merupakan komoditi perkebunan yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan kakao sangat dibutuhkan oleh berbagai macam industri, contohnya adalah industri makanan.

Sebagai komoditi yang memiliki potensi, maka kakao harus menjadi salah satu prioritas yang perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah Rokan Hilir dalam mengembangkan tanaman kakao adalah keinginan dan kemauan masyarakat dalam membudidayakan tanaman ini. Karena selama ini, masyarakat cenderung memilih sawit sebagai tanaman unggulan perkebunan.

Guna mengatasi hal ini, maka Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir harus mampu meyakinkan kepada masyarakat bahwa dengan budidaya tanaman kakao maka masyarakat dapat memiliki kehidupan yang tidak kalah sejahtera dengan petani/pekebun tanaman yang lain. Selain itu, pemerintah daerah harus mampu menjadikan wilayah Kubu sebagai sentra tanaman kakao.

Guna mendukung hal tersebut maka Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir harus mampu menyediakan sarana dan prasarana perkebunan kakao yang memadai, seperti bibit unggul, pupuk, penyuluhan, pemasaran dan kegiatan lain seperti pendidikan dan pelatihan untuk panen dan pasca panen. Hal ini tentu sebagai upaya membentuk sentra tanaman perkebunan kakao yang tangguh.

Namun tidak menutup kemungkinan bagi wilayah kecamatan yang lain untuk dapat mengembangkan tanaman kakao, namun dalam hal ini wilayah tersebut hanya berfungsi sebagai zona atau wilayah pendukung bagi wilayah sentra perkebunan kakao. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing daerah memiliki ciri khas dan keunggulan yang spesifik untuk suatu komoditi tanaman pertanian atau perkebunan.

Di Kabupaten Rokan Hilir, tanaman pinang juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Rohil, tanaman terluas pinang berada di Kecamatan Rimba Melintang. Namun produksi pinang di Kecamatan Rimba Melintang, berbeda dengan di Kecamatan Bangko Pusako dan Rantau Kopar. Di Kecamatan Bangko Pusako, hasil yang bervariasi ini menunjukkan bahwa antara luas lahan dengan produksi yang dihasilkan tidak berbanding lurus.

Pinang memang kurang popular dibandingkan dengan sawit, karet, kelapa dan kakao. Namun di balik ketidakpopuleran tersebut pinang masih mampu untuk dikembangkan menjadi komoditi unggulan tanaman perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tersedianya lahan, iklim yang mendukung dan pasar yang luas. Itu yang menjadi tugas Pemerintah Daerah untuk dikembangkan dan menjadi sumber pendapatan asli daerah dari sektor perkebunan.

Sementara itu peningkatan hasil perekonomian masyarakat dari hasil produksi pertanian padi di Rokan Hilir dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan, dengan hasil produksi padi yang mendekati target. Pandangan yang biasa saat ini masyarakat memanfaatkan lahan kosong milik orang lain dengan istilah meminjam.

Pemerintah Daerah Rokan Hilir tidak serta merta lepas dari perhatian dan program pertanian seperti memperhatikan pembangunan sarana pendukung seperti pembangunan saringan irigasi sebanyak 5 unit bantuan dari pusat dan 14 unit dari APBD Rohil terus digenjot oleh Bupati Rohil.

Selain padi menurut Bupati Rohil H Suyatno saat membuka agenda konsolidasi pelaksanaan Upsus Padi belum lama ini, jagung dan kedele dalam mendukung program swasembada pangan nasional beberapa waktu lalu menyebutkan, dahulu ketika masih bergabung dengan Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir merupakan lumbung padi terbesar di Provinsi Riau. Namun, kini produksi padi mengalami penurunan dikarenakan banyaknya alih fungsi lahan ke perkebunan kelapa sawit. (Adv/humas)

 

×