Advertorial Kab Bengkalis
Minggu, 03 Maret 2019 - 22:26:00 WIB

Terkait Rencana Pengolahan Air, Dua Utusan Bank Dunia Kunjungi Bengkalis

Editor: Administrator | Dibaca: 78
Terkait Rencana Pengolahan Air, Dua Utusan Bank Dunia Kunjungi Bengkalis

PIRAMIDNEWS.COM - Dua utusan Bank Dunia (World Bank), Selasa (26/2/2019) mengunjungi Kabupaten Bengkalis, tepatnya di
Desa Pambang Baru dan Kembung Luar Kecamatan Bantan. Kehadiran mereka untuk memantau operasi dan pemanfaatan air dari
sarana Pamsimas.

“Kehadiran utusan Bank Dunia, menindaklanjuti surat yang diteruskan oleh Satker PIP Kabupaten Bengkalis ke CPMU pada 31
Oktober 2018, terkait dengan masalah pengolahan air gambut, payau dan air yang mengandung FE yang tinggi,” ungkap Kepala
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR) Bengkalis Hadi Prasetiyo, melalui layanan WhatsApp, Jumat (1/3/2019).

Utusan Bank Dunia yang berkunjung ke Bengkalis, yakni Water and Sanitation Specialist Global Practice Alizar Anwar dan Risyana Sukarma. Keduanya didampingi rombongan dari Provinsi terdiri unsur ROMS 4 Propinsi Riau, yakni Bappeda dan Pokja AMPL Riau serta Satker PIP Provinsi Riau.

Kunjungan World Bank, sebagai referensi penyelesaian penyusunan pedoman pada instalasi pengolahan air minum dengan
menggunakan sistem dan cara yang lebih sederhana dengan biaya yang relatif murah.

“Sampai di lokasi, Tim Bank Dunia melihat kondisi air yang ada di SPAM Desa Pambang Baru, mengambil sampel di menara air dan mengecap rasa airnya dan melakukan Uji PH,” ungkap Hadi Prasetiyo.

Dari hasil analisa singkat terhadap air di Desa Pambang Baru, air di Desa Pambang baru dinilai mengandung warna gambut yang cukup tinggi, namun tidak payau karena PH nya cukup bagus. Pengolahan yang bisa dilakukan oleh KPSPAMS terbilang cukup sederhana misalnya dengan teknologi PAC dan membangun sarana tambahan untuk pengolahan melalui pendanaan misalnya melalui dana desa.

Berbeda dengan kondisi air. Dari hasil pengamatan diketahui air yang berasal dari sumur bor yang juga untuk pengolahan RO di Desa Kembung Luar. Air mengandung logam Fe cukup tinggi dan rasanya payau dibuktikan dengan pengujian PH yang angkanya rendah dari angka yang layak digunakan.

Tim Bank Dunia memberi saran, agar mengooptimalkan jaringan sambungan rumah langsung ke masyarakat. Selanjutnya barulah
dilakukan revitalisasi pengelola RO, merancang kolaborasi pendanaan dengan BUMDes Desa Kembung Luar serta persiapan sebagai Plan Project untuk pengolahan air dengan bantuan teknis dari Bank Dunia.

Pihak Pemerintah Desa Pambang Baru dan Kembung Luar menyambut baik niatan dan rencana teknis yang akan dilakukan Bank
Dunia, karena masyarakat sangat membutuhkan air bersih.

Minta Pemkab
Utusan Bank Dunia (World Bank) minta kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis untuk menyiapkan satu desa yang bakal dijadikan Plan Project Pengelolaan Air.

Pemerintaan itu disampaikan Water and Sanitation Specialist Global Practice Alizar Anwar saat mengunjungi Kabupaten Bengkalis, Selasa 26 Februari 2019.

Ibarat gayung bersambut, Pemerintah Kabupaten Bengkalis langsung merespon positif bahkan bukan hanya satu desa, tapi langsung menyodorkan 3 desa dari kecamatan berbeda dengan kondisi air yang berbeda.

“Ini merupakan sebuah peluang, makanya kita langsung menawarkan tiga desa yang bakal dijadikan Plan Projet pengolahan air,” Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR) Hadi Prasetiyo, melalui layanan WhatsApp, Jumat (1/3/2019).

Sebagaimana diketahui, Selasa 26 Februari 2019, utusan Bank Dunia, melakukan Pertemuan ini dihadiri tim Bappeda Provinsi Riau dan Kabupaten Bengkalis, PPK Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (PIP) Kabupaten Bengkalis, TA ROMS 4 Riau bidang Water Supply dan Sanitation dan Local Government, ROMS 4 Kabupaten Bengkalis beserta Senior Fasilitator, dan PDAM Kabupaten Bengkalis.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Kadis PUPR diwakili Sekretaris Tomi Nanda, pihak Bank Dunia menyatakan siap memberikan bantuan teknis dan advise secara detail dan berkala melalui pedoman teknis tentang instalasi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi masing-masing desa. Namun, untuk pendanaan dan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan sistemnya menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah.

Salah satu utusan World Bank, Risyana Sukarma, pada pertemuan itu, memaparkan tentang cara pengolahan air gambut, payau dan mengandung Fe tinggi dengan mekanisme yang lebih sederhana dan berbiaya relatif rendah dan bisa terjangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan sistem yang sudah dikenal lama seperti Reverse Osmosis (RO).

“Hal ini sudah dilakukan di Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, dan dinilai berhasil untuk meningkatkan kualitas air menjadi jauh lebih baik,” ungkapnya.  (diskominfotik/rls/pnc)

Foto: Dua utusan Bank Dunia saat berdialog dengan warga di Bengkalis.

×